CATATAN ABSTRAK

Pages

RSS

Kawanku Imas

Pertama kali aku melihatnya, kesan yang aku dapat, dia adalah orang yang judes dan sombong. Kalian ingat dengan pepatah "jangan nilai buku dari covernya", pepatah itu memang benar, ternyata pandangan aku kepada dia itu salah semua, dia teryata baik dan tidak judes. Dia adalah kawanku di kampus, namanya Imas Massuroh.
Kita menjadi akrab, saat Imas sering curhat tentang seseorang yang dia suka dan orang yang membuatnya sedikit patah hati. Sahabat Asiyah ini, menceritakan apa yang dia rasakan tentang lika liku cinta. Aku yang bertitel Imam Besar OMP, selalu memberikan nasihat-nasihat untuk menguatkan hati imas (sebenernya nasihat-nasihat standar yang aku dapat dari para motivator dan menurut pengalaman sendiri).
Aku sekelompok dengan imas dan teman-teman yang lain saat matakuliah Hukum Adat. Kita ditugaskan untuk observasi ke Kampung Naga di Tasikmalaya. Imas langsung menawarkan selama observasi tinggal dirumahnya, lumayan tawaran Imas membuat biaya observasi irit. Selain itu keluarga Imas menjamu kita dengan begitu ramah dan memberi kita makan. Ah, senangnya saat itu. Selama dirumah Imas yang ditasik begitu enak, makanannya terjamin, bergizi dan membuat aku tambah gemuk. 4 sehat 5 sempurna sepertinya diterapkan di rumahnya. Cemilan berlimpah ruah.
Satu lagi, pandangan aku pada Imas, mungkin dia anak yang manja, yang tidak bisa apa-apa. Dirumahnya hanya diam, semua pekerjaan rumah dia tidak bisa lakukan. Ternyata salah lagi dugaanku. Saat kita selesai makan malam dirumah imas, Imas langsung mencuci piring bekas kita makan, entah itu adalah insting dia yang ingin menjadi ******** (sensor). Seharusnya aku atau teman-teman yang lain untuk cuci piring karena sudah menumpang dirumahnya, tapi Imas tidak mempermasalahkan itu, tetap dia yang cuci piring tanpa keluh kesah. Sekarang aku percaya dia orang baik dan mandiri.
Waktu dia pulang ke Puwakarta, aku iseng minta oleh-oleh khas Puwakarta " Mas, minta oleh-oleh khas puwakarta dong", pintaku dalam BBM.
"Mana Uangnya?" Balas Imas.
"Kalo pake uang sendiri bukan oleh-oleh tapi nitip. Masa ke Imam Besar itung-itungan. Kan aku itu konsultan masalah cinta kamu".
"Sok, serching di google oleh-oleh khas pwk apa. Kalo ketemu kasih tau aku".
Bagus. Balasan yang memungkinkan akan dikasih oleh-oleh. Aku pun serching di google, kalian tau apa yang aku dapat saat sarching di google, semua makanan khas di Puwakarta, semuanya sangat mudah di dapatkan di Bandung.
Aku BBM lagi ke Imas " Mas, susah eung cari makanan khas pwk"
Tidak beberapa lama Imas balas bbm aku "iya kan nggak ada. Semuanya ada di Bandung. Jadi nggak usah bawa oleh-oleh".
" bawa apa aja lah, yang penting bawa oleh-oleh".
"Bawa apa atuh?".
" apaaaaa aja imassss yang penting bawa oleh-oleh".
"Apaaaaa atuh? Baju kotor mau?"
"Jangan ih, makana atuh, biar bisa dimakan".
" iya apa?"
"Ya gak tau, kan kamu yang orang pwk, jadi kamu yang lebih tau".
"Ya udah terserah aku aja weh ya, mau di beliin apa aja juga".
" okey. Tapi yang enak. Makacih kakak".
"Sipt. sama-sama".
Saat kuliah, dia bawa oleh-oleh yang aku pesan. Oleh-olehnya sederhana yaitu dua bungkus simping dan beda rasa. Givani yang melihat meminta oleh-oleh itu, aku berikan satu bungkus yang besar buat givani, sesuai dengan badanya. Sedangkan aku memilih bungkusan kecil walau tubuh aku besar, alesannya biar tidak disebut serakah.
Saat simping itu dibawa ke rumah, ternyata Mamah dan Angga suka banget, malahan  mereka berdua yang ngehabiskannya. Aku cuma makan sedikit. Mamah ingin minta lagi simping.
" Ni, bawain lagi simping ke Imas Maysaroh". Kata mamah.
Mamah tau nama Imas dari What App yang ada di hape mamah. Dulu hape mamah sepat dipake aku, selama satu tahun, sehingga kontak teman-teman ada di hape mamah. Penyebutan nama yang salah karena penyakit tua, yaitu mata yang sudah tidak sejelas dulu. Aku senyum saat mamah salah menyebutkan nama Imas.
Aku nge WA Imas "ada pesan dari mamah aku, suruh Imas Maysaroh bawa simping lagi"
Imas bales WA aku "itu penyebutan nama salah? Kenapa bisa tau aku bawa simping?"
"Iya mamah aku salah nyebut nama. Dari WA hape aku yang dulu".
" oh. Benerin atuh penyebutan namanya".
"Nggak mau takut dosa. Kan ngebantah orang tua dosa. Kamu ikhlas aja maafin mamah aku ya?"
"Iya okey. Tenang aja".
" syukurlah. Makasih. Bawa lagi simping ya, mamah aku suka."
"InsyaAllah. Kalo nggak males. Tapi nggak janji".
Saat imas pulang, aku ingatkan lagi bawa oleh-oleh.
Tadi pas dikampus, imas memberikan simping lagi. Aku senang, mamah senang, Angga senang, semua senang, karena simping. Dalam waktu berapa jam simping yang dikasih imas habis.
Terimakasih imas.

Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah OMP

OMP dibuat karena adanya persamaan nasib, beberapa orang mahasiswa jurusan HPI (Hukum Pidana Islam) yang tidak memiliki sama sekali organisasi kemahasiswaan baik di dalam kampus atau pun diluar kampus. OMP sendiri singkatan dari Organisasi Mahasiswa Pengangguran, yang didirikan oleh Doni Ridwansyah di tempat kost.an Enjang, setelah Mendengar keluhan Cepmi, sesudah jum'atan, dan malas untuk kuliah. Disaksikan Oleh Idham, Hendra, Enjang, Julham, Cepmi, dan Ghuran, Doni mengukuhkan dirinya sebagai Imam Besar OMP sekaligus Plokamator OMP.
Markas OMP, yaitu di Planet Bumi yang indah, dilengkapi dengan oksigen gratis yang diberikan Allah SWT. Namun anggota OMP sering kumpul di Kost.an Enjang, tempat dimana OMP di plokamasikan. Sebagai Organisasi yang ingin kelihatan hebat maka harus ada lambang, dan struktur Organisasi. Sebagai Imam Besar OMP, Doni membuat lambang OMP, ini penampakannya:
Ini lambang pertama OMP.
Filosofinya:
1. Wajah silang tersenyum yang berbentuk bom, menandakan kami ramah pada setiap orang, tidak mededakan orang dari segi apa pun, dan kami bisa meledakan dengan kesuksesan dan prestasi.
2.Lambang Love, kami cinta dengan seluruh kebaikan yang ada.
3.huruf P dengan sorot mata yang tajam dan ada lingkaran malaikat, menggambarkan kami serius menghadapi kehidupan ini, namun kami juga akan baik dan rajin Ibadah. Amin.

Imam Besar OMP, memberikan kepercayaan kepada Cepmi sebagai Ketua Umun OMP, periode jabatan sampai Cepmi sadar bahwa OMP itu Organisasi Gila atau dia bosen jadi Ketua Umum. 

Cepmi mengangkat Hendra Hidayat sebagai Sekai bacot (kalo di Indonesia lebih dikenal dengan "Jubir"). Yang bertugas sebagai juru bicaranya OMP. 

Doni, juga langsung meberikan jabatan pada Enjang Sebagai Ketua Mabes, yang bertugas untuk menyiapkan tempat untuk anggota OMP kumpul.

Sebagai mahasiswa yang kritis, elatis, dan minimalis, para Anggota OMP pun senang diskusi membicarakan tentang. politik, Agama, harga bawang, cinta, musik, film, dan film 3gp yang berdurasi sekian menit. Maka Doni, membuat forum Diskusi OMP, yaitu Al-Asbun (nama Al-Asbun di ambil dari Novel Pidi Baiq). Pimpinan Dewan Kerhormatan Al-Asbun di berikan kepada Arsa "Ambo" yang langsung di impor dari Jambi. 

OMP, pernah di protes oleh kelas HPI/4/A, karena dianggap memecah belah kelas. Sehingga kelas tidak lagi kompak. Saat protes dilayangkan kepada  OMP, Imam Besar OMP tidak ada di kelas, yang ada hanya KETUM, Ketua Mabes, Seksi Bacot, dan beberapa Anggota OMP. Demi menjaga keamanan dan ketentraman, maka Imam Besar OMP, segera membuat POMP ( Pembela OMP), yang bertugas menjaga Keamanan OMP dari segala bentuk kejahatan.
Pomp di pimpin Jendral Eva Basoka dan Laksamana Kapten Desi Granat. 
Namun, sepertinya mereka berdua akan mengundurkan diri setelah mebuat Organisasi CB (Cewe Bohay). Sebelum ada pengunduran resmi dari mereka, maka POMP tetap dipimpin oleh Jendral Eva Basoka dan Laksamana Kapten Desi Granat.

Hampir 2 bulan OMP berjalan, Seksi Bacot, Ketua Mabes, dan Anggota OMP, memprotes nama Belakang OMP, mereka tidak mau kalau huruf "P" itu adalah Pengangguran, karena takut menjadi sebuah Do'a. Ketua Mabes mengusulkan kalo huruf "P" itu menandakan Pintar,  Ketua Umum mengusulkan "P" itu Pembegal, Ghuran mengusulkan "P" itu PES (nama game sepak bola yang hoby di mainkan oleh seluruh anggota OMP), dan seksi bacot mengusulkan supaya OMP tidak memliki nama panjang. Melihat usulan tersebut Imam Besar OMP, mengambil sebuah keputusan bahwa nama OMP tetap memiliki nama panjang namun haruf "P"nya bebas di artikan oleh siapa pun. Mau di sebut Organisasi Mahasiswa Pengangguran, Pembegal, PES, atau Pintas, itu terserah orang yang mengartikannya. Protes itu dikenal dengan Konfrensi Sebelum Kuliah (KSK). 
Setelah KSK mencapai persetujuan dari seluruh Anggota atas nama OMP, maka dibuatlah Maklumat yang berisi:
"Dengan atas ijin dari Allah SWT, dengan maklumat ini menjelaskan bahwa nama OMP bebas diartikan oleh siapapun juga, tanpa terkecuali. Anggota OMP berhak atas segala nama yang diinginkan dari OMP, dan Anggota OMP tidak boleh bermusuhan karena hanya sebuah nama. Semoga dengan maklumat ini, hubungan persahabatan OMP semakin erat. Amin".

Setelah maklumat dibuat, lambang baru OMP pun diluncurkan
Lambang baru belum memiliki filosofi.

OMP, juga akan membuat wadah untuk menampung kesukaan pada subuah seni. akan diberinama Senirun Al Bait. Yang akan diketuai oleh Idham dan Ghuran. Logo akan menyusul.

Selain itu, untuk menaungin sebuah hukum OMP, maka akan dibuat Lembaga HOMP (Hukum OMP), yang dipimpin oleh Asep Saefudin Bonger. Logo akan menyusul.

Demi kebaikan dalam Agama, dan menjaga Anggota dari perbuatan sesat, didirikanlah Majelis Ulama OMP (MUO), yang akan di ketuai oleh M. Julham Zakaria. 
 
OMP, memiliki semboyan yaitu: 
Silahkan bersenang-senang menurut selera masing-masing. Anda senang, kami sejak dulu.

Kegiatan OMP:
1. Melamun
2. Ngomongin Orang
3. Main PES
4. Dll, terserah yang penting senang dan riang, biar tidak kalah sama anak TK.

Syrat menjadi Anggota OMP:
Orang yang mengaku Anggota OMP, sudah termasuk menjadi Anggota. Ospeknya bebas gimana keinginan sendiri, silahkan ospek sendiri saja. 

Sekian dan terimakasih. 

Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

persahabatan Desi dan Eva. WOW!!! Part 2

"Evaaaaaa, kalo kamu menang, aku akan teraktir mie kocok!", Teriak Desi di pinggir lapang badminton. Tidak usah pake TOA, suaranya cukup terdengar sampai seisi GOR. Memang saat itu Eva sedang bertanding Bandminton sebagai perwakilan kelas, diacara Milad HPI.
Aku yang kebetulan dipinggir Desi, cukup aneh juga sama teriakan Desi tadi. Apa untungnya bagi Desi kalau Eva menang, kok dia berani neraktir, toh menang atau kalah nggak ada efeknya bagi Desi. Seiringnya waktu berjalan, aku baru mengerti, Desi teriak seperti itu semata-mata untuk menyemangati kawannya yang sedang bertanding Badminton. Aku tertegun lagi sekaligus berdecak kagum atas apa yang aku saksikan sendiri tentang persahabatan mereka. Sekali lagi aku belajar dari mereka artinya persahabatan.
"Des, jagoan ya Eva main Badmintonnya?" Kataku.
"Iya lah keluarganya juga suka olah raga. Kakaknya ngambil jurusan Olahraga, Ibunya jago badminton, Dan Ayahnya suka main volly" Desi terlihat semangat menceritakan keluarga Eva.
"Pantes jago mainnya, ternyata keturunan atlet".
Ternyata Desi tidak hanya mengenal Eva saja, namun mengenal dekat keluarga Eva. Info yang aku dapat dari mata-mata yang aku sebar, pas pertama kali Eva akan ketemu Miftah, Eva meminta ditemanni oleh Desi. Aku yakin Eva akan merasa aman jika disisinya Desi, dan sebaliknya Desi akan merasa Aman ada disisi Eva. Sial, aku kabita dengan apa ikatan persahabatannya.
Dari pertama kali mereka ketemu sampai sekarang, kurang lebih persahabatan mereka sudah di bangun selama 2 tahun kurang, dan yang bikin aku kagum, tidak pernah ada gosip kalau mereka marahan atau musuhan, persahabatan mereka tentram dan adem. Seandainya rakyat Indonesia memliki rasa persahabatan seperti Desi dan Eva, saling memiliki, menguatkan, saling mendukung, dan saling menyayangi insyaallah Indonesia akan indah dilihat. 
Asalkan kalian tahu, Eva dan Desi selalu bersama, datang ke kampus bareng, pulangnya bareng, naik motor boncengan, kalo kalian berpikir rumahnya satu komplek atau dekat, itu salah. Nyatanya jarak rumah mereka berjauhan, namun karena saling memiliki lah mereka berani saling berkorban. Mereka tidak bersama ketika pulang kerumah masing-masing, waktu ee, pipis, dan ketika mandi. Jika kalian ingin bertemu Eva dikampus, cari aja Desi, pasti ketemu Eva, dan sebaliknya juga kalo ingin betemu Desi, cari aja Eva pasti ketemu Desi. Da mereka berdua selalu bersama. Romantis persahabatanya, dan manis jika lihat kedekatan mereka.
Persahabatan Eva dan Desi seolah-olah paduan warna indah yang membentuk pelangi, sehingga orang yang melihatnya akan senang dan takjub. Pelangi yang membuat orang ingin memiliki juga. Mereka tidak mensia-siakan hidup di planet bumi karena kedamaian atas persahabatanya. Mungkin, Tuhan pun terhibur atas persahabatan mereka berdua, dan biarkan lah bumi, udara, kedua malaikat yang ada di kanan dan kiri mejadi saksi ikatan tulus persahabatan kalian Eva dan Desi. :)
Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

(Belum ada Judul)

Saat itu ayam jago mulai berteriak dengan nada yang sama ketika matahari mulai muncul. Bandung sedang dilanda gerimis yang seperti sebuah asiran, udaranya dingin, dan kamu pasti akan memakai sejenis baju penghangat, misal jaket. Namun kamu pasti akan senang, karena sudah lama tidak merasakan cuaca di Bandung seperti ini. 
Setelah kamu merasakan suasana jarang seperti ini, tiba-tiba berjumpa dengan kawan, yang sudah lama tidak bertemu. Oh, pasti hari ini doubel indahnya, cucaca yang dingin dan berjumpa kawan lama. Lalu kamu ingin ngobrol denganya, maka diajaklah dia kesebuah Kedai kopi sederhana, dekat kampus.
"Sudah berapa lama kita tak jumpa?" Kamu menatapnya dengan penuh rasa senang dan kangen.
"Hampir 2 tahunan, mungkin". Temanmu itu menjawab sambil tersenyum, yang mengisratkan bahwa dia juga senang.
"Kau tambah cantik. Ah, jangan!" Kamu melihat matanya dan bola mata yang warnanya sangat indah.
"Jangan apa?"
"Jangan aku jatuh cinta lagi ke kamu, Dian"
Gadis itu tersenyum, menundukan kepala, sepertinya Diandra, atau yang lebih akrab dipanggil Dian malu. Sehingga kamu cepat-cepat memanggil pelayan, untuk mencairkan susana.
Pelayan itu menghapiri, membawa buku menu makanan dan minuman. Lalu kamu memberikan kesempatan Diandra untuk memilih menu pertama. Lalu kamu memperhatikan Diandra yang sedang melihat menu makanan dan minuman, bola mata yang indah bergerak ke kanan dan kekiri, dan kamu akan berpendapat sama dengan insting normal laki-laki bahwa dia cantik. 
"Aku ingin memesan Lemon Tea. Kamu memesan apa Ben?" Dia menyerahkan buku menunya ke kamu.
"Kenapa tidak memesan makanannya?"
"Aku sudah makan di rumah, jika kau mau silahkan." Kata Dian.
"Iya, aku pun sudah kenyang. Aku memesan capucino".
Pelayan itu mencatat apa yang dipesan, lalu pergi. Bandung di guyur hujan lagi, bukan gerimis, hujan lebat. Seakan-akan alam mendukung pertemuan ini, karena kamu dan Dian ditawan di kedai kopi itu. Sungguh suatu Anugerah bagi kamu, bisa lama berdua dengannya. Jangan sirik ya kalian.
"Musim hujan ya sekarang? Bandung dingin lagi euy" kamu melipatkan kedua tangan, seakan tangan itu berpelukkan.
"Hahaha... Aku senang Ben, bahwa Bandung kembali lagi seperti ini. Semoga jadi Paris Van Java lagi".
Lalu kamu dan Dian berbincang-bincang tentang masa lalu, otak kalian berdua memutar lagi dengan nostalgia yang pernah dialami dulu. Kenangan yang tidak dapat dijual, atau pun dibeli, kenangan sederhana namun istimewa. Canda dan tawa menghiasi kalian berdua saat itu. Namun saat kamu memandangnya ketika ketawa, ada satu yang ganjil dalam tawanya, kamu merasaka dia sedang berusaha melupakan kesedihan. Namun Dia berusaha untuk menutupi kesedihan itu dari kamu, sebagai yang pernah dekat dengannya, pasti kamu bisa merasakan kesedihan itu, walau dia belum menceritakan, sehingga kamu bertanya-tanya kenapa Dia sedih.
"Waktu itu berapa lama kita menjadi pacar?" 
"Apa?" Dian kaget dengan pertanyaan kamu itu.
Kamu menatapnya dan tersenyum "Berapa lama kita waktu itu pacaran?".
"Kurang lebih satu setengah tahun. Memang kenapa?"
"Kata orang, jika seseorang sudah lama bersama, setidaknya orang itu memiliki kontak batin, bisa merasakan apa yang dirasakan pasangannya, walaupun tidak diceritakan secara lisan".
"Benarkah? Aku tidak percaya. Kita sudah lama tidak bertemu, mungkin kontak batin itu sudah hilang" Dian tersenyum.
"Mungkin iya juga, tapi sisa-sisanya masih ada. Biar aku tebak, kau sedang sedih?"
"Benarkan sudah hilang. Kamu salah, I am Fine."
"Mudah-mudahan firasat aku salah. Semoga saja. Jika kau ingin cerita, aku siap mendengarkan ceritamu, kita memang sudah putus, tapi kita itu sahabat".
"Aku baik-baik saja Ben. kau jangan kawatir, kau yang pernah bilang kalau aku ini wanita yang kuat dan tahan banting. bukan begitu?"
Kamu tersenyum, memang benar waktu itu kamu pernah berucap seperti itu pada Diandra. "Tapi, kau tetap wanita yang diciptakan hatinya lembut oleh sang Pemilik Bumi ini".
"Okey, aku jujur. Memang saat ini hatiku sedang kacau, tapi bukan sedih, mungking hanya sedikit kecewa, dan sedikit emosi".
"Jika kau tidak keberatan, bolehlah sedikit cerita padaku".
"Terimakasih kau masih tetap baik padaku dan peduli".
"Jangan ucapkan terimakasih, bagaimana pun kau pernah mengisi kesenanganku ketika kita bersama. silahkan lah kau bercerita, semoga aku menjadi pendengar baik".
"Bukan hanya pendengar, tapi kamu harus memberikan pendapat, kalo bisa cari solusi.".
"Siap Garak!!!"
Dian sepertinya malu untuk memulai bercerita, dia sedang berfikir, namun kamu setia menunggu ceritanya dengan sabar, tidak mendesak dia bercerita segera mungkin. sampai dia sendiri bersiap untuk bercerita.
"Begini Ben. Aku suka pada seorang laki-laki, tapi dia tidak peka dengan perasaanku, dan aku juga tau dia tidak suka padaku. aku yakin perasaanku ini tidak salah, karena jatuh cinta itu adalah sebuah anugerah dari Allah SWT. Makanya aku ungkapkan apa yang aku rasakan ini padanya, semuaku curahkan padanya..."
"Bagus dong, kamu adalah pelopor emansipasi wanita, yang di orasikan oleh Ibu Kita, Kartini. wanita yang berani mengungkapkan perasaannya pada seorang Pria" kamu memotong pembicaraan Dian.
"Hehehe... kamu ini memotong pembicaraanku".
"Maaf. Silahkan teruskan".
"Setelah aku ungkapkan semua perasaanku, dia tidak menerimaku, aku tetap tenang, sedihpun tidak ada. menurutku yang penting hati ini tenang sudah itu cukup. aku pun tidak pernah terpikir untuk jadi pacarnya sekarang ini, atau mendapatkannya. menjadi sekarang pun sudah cukup, menjadi teman", dia menarik nafas, dan mehembuskannya sangat pelan, seakan untuk sekedar menghilangkan sedikit rasa beban yang ada dipundaknya.
"Terus masalahnya dimana Diandra?"
"Disinilah maslahnya Ben. Ternyata Laki-laki itu bercerita apa yang aku bicarakan, tentang perasaanku padanya, pada mantannya. dan kamu harus tahu, mantanya itu adalah teman dekatku. ini yang aku merasa menjadi masalah, aku jadi tidak enak hati pada temanku ini. Okey, memang temanku mungkin tidak apa-apa, tapi tetep perasaanku tidak enak".
"kamu tahu darimana, kalau dia cerita pada mantannya?".
"Tuhan yang memberi tahu, lewat kebetulan. mungkin bukan kebetulan tapi takdir aku harus tahu. untung saja temanku sangat baik, dia menemuiku dan bermain denganku seolah-olah tidak terjadi apa-apa, malahan seakan-akan tidak tahu apa-apa".
"Bagus kalau begitu, tidak jadi masalah kan?".
"Tetap aku jadi tidak enak hati pada temanku, mungkin bisa jadi dia sudah tidak ada perasaan pada laki-laki itu. namu tetap saja, aku merasa tidak enak hati. untung temanku baik, jika dia bersifat pendendam atau arogan, bisa sajakan aku musuhan. Aku lebih memilih persahabatan dari pada cinta. Sahabat lebih berarti, Sahabat selalu akan ada tanpa kata putus. Seperti kau dulu memutuskanku karena memilih sahabat", Dian menunjukmu dengan telunjuknya.
"Hahaha... kau masih ingat hal itu. kenapa kau tidak memarahi laki-laki itu?".
"Akh... rasanya ingin sekali seperti itu, tapi tidak bisa. setiap lihat wajahnya, jujur aku merasa tenang dan sejuk. Mana tega aku memarahinya, aku lemah dihadapannya. dan jujur juga aku kecewa dengan sikapnya yang ini. mau emosi tapi tidak bisa, karena sayang. mungkin".
Hujan mulai berhenti, matahari mulai menyinari Bandung, khususnya Bandung timur.
"Yang membuatku penasaran, kenapa dia cerita ke mantannya yang notabenya sahabatku sendiri. apa latar belakang dia cerita? kadang aku suka emosi dan sekaligus penasaran" kata Dian.
"Aku juga tidak tahu. tanyakan lah pada orangnya".
"tidak berani. etah mengapa aku jadi pencundang seperti ini, yang menanyakan saja tidak berani. dulu saat denganmu aku berani, menanyakan apa pun".
"Hahaha... kau harus tenang, itu yang aku bisa ucapkan. mungkin suatu hari dia akan cerita apa alasannya cerita kemantannya, atau Tuhan yang akan memberitahumu, kalau itu takdir jika kau harus tau".
"Mudah-mudahan dia cerita. Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku", Dian tersenyum pada kamu.
"Sama-sama" kamu pun membalas senyuman Dian.
Tidak tersa waktu menunjukan pukul 08.30 wib, kamu harus cepat-cepat ke kampus untuk mengikuti matakuliah dan kembali menjadi mahasiswa yang mendengarkan ocehan dosen, walau itu membosankan. sedangkan Dian, harus pergi menemui Dosen yang sebelumnya sudah janjian. kamu dan Dian keluar dari kedai kopi, setelah membayar. tadinya kamu yang akan meneraktir, tapi Dian lah yang duluan membayar. Sehingga tetep uangmu awet. ketika kamu tanggahkan kepalamu pada awan, terilhat pelangi yang begitu indah, dengan lengkungan sempurna. sebelum masuk ke kampus, kamu melihat Dian masuk ke Angkot. lalu kamu berlari menuju gedung, karena sudah telat 15 menit.
Sebelum berpisah dengan Dian, ia berkata "Semoga kita jumpa lagi, dan bisa ngobrol seperti ini. aku senang dan rindu seperti ini".
"Berdoalah Diandra. asal kau tahu, aku juga senang".
Terimakasih Diandra untuk hari ini, aku puas melihat wajahmu, senang melihat tawamu, melihat bola matamu, mendengar suaramu, aku senang semuanya yang ada dalam dirimu. 


Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Futsal 25 Desember 2014 bersama Shoshodock

Hari Kamis, tepat ketika sodaraku sesama mahluk bumi yang beda Agama merayakan hari besarnya, yaitu Natal. Kalo natal itu seru, banyak film kartun dan film-film asik di teve. Tapi, lebih asik lagi Idul Fitri, bisa merasakan kebahagiaan bagiku yang beragama islam. Semua hari raya setiap agama, pasti berkesan dan spritual bagi pemeluk agamanya masing-masing.
Buka masalah Agama yang akan aku bahas sekarang, namun kebahagian dihari natal, bukan natalnya tapi moment saat itu, yang bertepatan dengan Natal. Aku dan shoshodock (walau tidak semua) kumpul dan bermain futsal.
Memang satu bulan sebelumnya sudah di jadwalkan Shoshodock kumpul, dan aku mengusulkan untuk futsal. Tujuan Futsal, hanya rencana supaya kumpulnya sukses, tidak gagal. Kenapa tidak jalan-jalan jauh? Kalo jalan-jalan selalu gagal. Akhirnya Fix, tanggal 25 Desember 2014, pas Hari Natal shoshodock akan main Futsal, setelah futsal terserah, yang penting kumpul. 
Untuk memuluskan kumpul hari 25 Desember, dan biar gampang berkomunikasi, Shapiw yang di usulkan Erry dan Aconk membuat sebuah Grup di Line. Disana menyusun rencan untuk kumpul, membicarakan tempat futsal, dan saling hina, ketawa, serta saling melepas rindu. Dulu waktu SMA tidak lewat aplikasi di smart Phone, namun langsung kalo ingin ketawa bareng. Walau begitu setidaknya lumayan untuk melepas rasa kangen, walau dengan teknologi canggih. Enakan langsung ketemu. Sayang seribu sayang, semua anggota shoshodock tidak memiliki Line, hanya beberapa saja yang punya, yang punya cuma, shapiw, aconk, erry, iman, doni, putra, ulil. Sedangkan sisanya tidak ada. Maka tertinggallah informasi pada orang-orang yang tidak mempunyai Line. Kasian. Melihat dari kenyataan semua anggota shoshodock tidak memiliki line, maka dengan rasa persahabatan, dan setelah diskusi secara sengit, maka menimbang bahwa semua anggota shoshodock tidak memiliki line, dan hampir semuanya memiliki Black Berry Masseger disingkat BBM, maka memtusakan Shapiw membuat grup di BBM. (Bersambung)
Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Eliesia

Matahari mulai mengalah pada bulan, kini bulan yg lebih dominan terlihat dilangit. Walau cahaya bulan di pancarkan matahari, tetap di malam hari peran utama milik bulan. 
Malam itu di sebuah cafe, dekat pantai, dengan terdengar jelas deburan ombak, aku sedang mengobrol dengan wanita yg selalu sederhana namun terlihat cantik. Namanya Aliesia. 
"Bagaimana kamu bisa Tahu kalo Tuhan itu Maha Penyayang?" Senyum Eliesia.
"Aku Tahu Tuhan Maha Penyayang, dari Rumah sakit".
"Maksudmu?"
"Kau tahu, saat Ibuku sakit dan harus di pasang oksigen, berapa uang yang harus keluargaku keluarkan?" 
Eliesia menggelengkang kepala. Rambut yang tidak di ikat, ikut bergerak sesuai kepalanya. Itu menambah kecantikan yang dimiliki Eliesia.
"Jutaan Eliesia! Jutaan!" Aku menatapnya, "Bayangkan jika Tuhan membisniskan oksigen, maka diriNya akan untung dari sekian puluhan triyun manusia. Tapi Tuhan memberi oksigen Free alias gratis. Maka aku simpulkan Tuhan sayang pada umatnya".
"Dengan itu kau simpulkan Tuhan maha penyayang?" 
"Eliesia, tentu aku tidak  menyimpulkan langsung. Karena, Tuhan tidak perlu uang, Tuhan pemilik langit, bumi, dan semesta alam ini"
Eliesia mengambil gelas yang berisi kopi susu kesukaannya "Lantas apa lagi yang membuat kau yakin Tuhan Maha penyayang?" 
"Kau lihat oksigen yang dihirup di bumi ini, bukan hanya orang-orang yang taat pada perintah-Nya, melainkan penjahat pun dapat oksigen gratis. Dari agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, miskin, kaya, religius, atau atheis pun berhak mendapat oksigen gratis. Itu yang menambah aku percaya bahwa Tuhan Maha penyayang" Eliesia mendengarkan baik perkataanku, aku senang ngobrol sama dia.
"Benar katamu, Don. Aku ini kristen, tapi sama seperti kamu yang islam, mendapat oksigen gratis", dia meminum kopi susu yang mulai dingin.
Hari semakin larut, jam sudah menunjukan pukul 12 malam, walau pun begitu hingar bingar alunan musik masih terdengar jelas.
"Aku tahu besok matahari akan muncul dari mana?" Kata Eliesia.
"Dari negaramu, Eliesia. Barat."
"Hahahaha... Benar. Aku sering di sebut turis dari barat oleh orang-orang disini. Di  negaraku kalian tidak disebut turis Timur" dia meminum kopi susu.
"Turis dari timur, biasanya orang arab." Kataku sambil melirik mata Eliesia yang coklat, sungguh paduan warna yang indah dengan wajahnya yang manis.
"Orang Arab? Ehmmm... Yang besar hidungnya", Eliesia tersenyum, dan alisnya mengangkat sebelah.
"Bukan hanya hidungnya saja, tapi ada sesuatu yang besar juga". Aku menahan senyum, sepertinya gadis itu tahu apa yang dimaksud.
"Apa itu Doni? Apakah kau bisa menjelaskan dengan detail?".
Angin laut malam, menghembus kejendela dimana aku dan Eliesia duduk. Badanku terasa dingin, dan ku yakin gadis yang duduk didepanku pun merasakan yang sama. 
"Tentu aku bisa jelaskan untukmu, Eliesia", sejenak aku berhenti, melihat disekeliling Cafe, yang ada tinggal beberapa orang, "Benda besar itu menyimpan, jutaan calon mahluk baru di dunia ini, tapi harus melalui wanita, mahluk itu dititipka".
"Melalui wanita? berarti melaluiku?Hahaha..." 
"Benar. Suatu hari nanti kau pasti akan mengalami itu, percayalah.
"Maafkan aku, Doni. Aku lebih peracaya Tuhan dari pada kamu. Hahaha...", dia menatapku, dan tertawa. Saat itu aku mulai percaya, jika Eliesia ditakdirkan menjadi wanita yang cantik. "Apakah menurutmu wanita istimewa?"
"Iya. Malahan di agamaku wanita sangat diistimewakan. Malahan tiga kali disebut oleh Nabiku untuk dihormati, setelah itu baru laki-laki untuk dihormati".
"Wow! Benarkah itu? Tolong jelaskan lebih rinci!" Eliesia tertarik dengan apa yang tadi kukatakan.
"Dengar baik-baik, suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad 'Ya, Muhammad. Siapakah yang harus utama aku hormati Abi atau Ummi?' Lalu nabi menjawab 'Ibu.. Ibu... Ibu... Dan bapak'. Itulah istimewanya wanita di Agamaku". Aku meminum es jeruk hangat yang baru dipesan tadi.
Eliesia melamun, entah apa yang dia pikirkan. Biarkan lah dia berpikir jauh terbang menembus langit, sehingga akalnya diajak berfantasi.
"Keren! Berarti kau harus hormat padaku. Aku wanita, calon ibu".
"Siap Grak!" Aku hormat, mengangkat tangan dan ditempelkan di dahi. Seperti tentara pada komandanya.
"Hahahaha... Seberapa pentingkah ibu bagimu, Don?"
"Ibu, siapa dia? Hanya jantung kehidupanku. Ibu juga bentuk cinta sejati yang nyata dan 'Tuhan' di bumi yang aku bisa lihat dan raba".
"Sepertinya kau sangat sayang pada Ibumu".
"Sayangku tidak seberapa, daripada sayangnya pada diriku. Tidak bisa dibandingkan. Saat aku dipeluknya selalu kurang".
"Kenapa?".
"Karena Ibu cemas, takut anaknya kenapa-kenapa, dia takut belatentara penyabut nyawa datang. Bagaimana dengan kau, apa menurutmu Ibu?"
Matanya menunduk, senyum yang tadi berkembang, kini frekuensinya berkurang. Lambat laun wajah sedihnya datang. Etah kenapa Eliesia berubah begitu. 
"Kenapa kau bersedih? Eliesia!" Aku bertanya setelah melihat wajahnya yang murung.
Wanita itu diam saja, kepalanya menunduk, sekilas ku lihat matanya berkaca-kaca.
"Aku belum pernah melihat Ibu. Ibu mungkin tidak sayang padaku." Akhirnya Eliesia buka suara.
"Aku yakin Ibumu Sayang pada kau".
"Kenapa kau bisa yakin?".
"Iya aku yakin. Jika dia tidak sayang padamu, mungkin Ibumu akan menggugurkan kandungannya. Tidak perlu sakit-sakit mengeluarkan kau ke Bumi ini".
"Tapi, mengapa dia meninggalkan aku, merasakan kepahitan di dunia ini?" Tetesan air mata keluar dari matanya.
"Aku juga tidak tahu Eliesia. Itu tugasmu untuk mencari tahu, jika ingin tahu alasannya. Tapi percayalah Ibumu sayang dan mencintaimu. Buktinya kau masih hidup dan bersenang-senang di dunia ini, bersamaku saat ini".
"Mungkin juga".
"Saat ini, kau harus bersabar dan menerima kenyataan dengan senyuman. Aku selalu siap jika kau butuhkan".
"Terimakasih. Mungkin bulan depan aku akan pulang ke Swiss".
"Pulang? Bukan kah kau sudah betah di negara Garuda ini? Kerjaanmu disini bagaimana?" Sumpah aku kaget, saar bilang dia akan balik ke swiss.
"Bagaimana sih kau ini, tadi kau yang bilang tugasku untuk mencari tahu dimana ibu. Aku ingin mencarinya. Doakan aku menurut kepercayaanmu."
"Hahaha... Siap. Mungkin Yesus akan senang, pengikutnya di doakan oleh, pengikut Nabi Muhammad. Ini adalah silahturahmi antar agama." 
"Kita adalah pelopor perdamaian Agama, walau hanya kita berdua yang tahu. Aku senang bertemu dengamu. Kau harus rasakan negaraku".
"InsyaAlloh. Aku ingin berkunjung kesana. Sediakan ikan asin di swiss. Dan kau membuat malam ini istimewa. Terumakasih Eliesia". Aku senyum padanya.
"Okey fine. Hari ini kita puas.", Eliesia tersenyum manis.
Subuh hampir menjelamg, matahari akan terbit di barat, orang-orang sudah banyak yang kumpul di pantai untuk melihat sunset. Kami menutup obrolan dengan meminum kopi capucino. Dan menunggu Sunset. Terimakasih untuk hari ini gadis sederhana dan cantik. Eliesia.
Tamat.
Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Percobaan NgePost lewat Hape

Hanya mencoba ngeposting lewat hape/samrtphone. Ya, ingin tahu rasanya. Terimakasih.

Wasalam

@DoniHolmesss
Read More >>

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Diberdayakan oleh Blogger.